Burungku Bisu Sekali

<!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Sepasang
burung kecil yang kubeli karena bujukan pedagangnya ini
menyadarkan
satu soal lagi kepadaku bahwa jangan-jangan selama ini
kita salah paham
terhadap kicauan burung piaraan. Jangan-jangan
yang kita katakan berkicau
itu adalah sebuah omelan. Jangan-jangan
yang kita sangka nyanyian itu adalah
sumpah serapah.

Sepasang
burung kecil ini memang datang dari jenisnya yang ramai sekali.
Baik
gerak maupun bunyinya tak pernah berhenti. Sangkarnya yang juga
kecil
itu dibuat terpisah. ”Ini darurat. Nanti bisa diganti. Jika
ditempatkan
dalam sangkar tersendiri dan diletakkan terpisah,
bunyinya akan lebih gila
lagi,” kata pedagang burung ini
berapi-api.

Seluruh nasihatnya aku turuti. Ketika di
rumah, burung ini aku tempatkan
terpisah. Hasilnya luar biasa.
Kicauanya deras sempurna. Ia menyanyi tanpa
henti dan menjadi
sumber keheranan tetangga. Setiap barang baru yang
tetangga ikut
mengagumi, sungguh mendatangkan kebanggaan ekstra.

Tapi
baru selang beberapa hari, salah satu sangkar ini terjatuh dan
rusak.
Terpaksa burung yang satu diungsikan sementara ke sangkar
pasangannya.
Burung yang sejatinya memang sepasang ini kembali
dipertemukan dalam satu
kandang. Hasilnya menakutkan: keduanya
langsung bisu bersama-smaa. Dari
burung kecil yang lincah dan
periang, seketika menjadi burung yang pemalas
dan menjengkelkan.
Kerjanya cuma nangkring berdampingan, mencari kutu di
bulu
pasangannya dan kurangajar, mereka berciuman. Burung ini, tanpa
seizin
sang majikan, berani menjalani cinta terlarang. Begitu
asyiknya mereka
bermesraan sehingga lupa tugas utamanya: menghibur
majikan.

Hampir saja aku murka dibuatnya. Terngiang
kembali nasihat penjual burung
ini sebelumnya: dicampur di satu
kandang, itulah pantangannya. Kini
pantangan itu kulanggar
sendiri, dan aku harus bersiap menanggung akibatnya.
Maka
secepatnya pantangan itu hendak kembali kujaga. Sangkar baru
kusiapkan
demi mengembalikan kicauannya. Dan ketika sangkar baru
sudah tiba, sudah
saatnya burung celaka ini dipindah paksa, mereka
belum pula menyadari
keadaannya.

Keduanya masih
saja nangkring berhimpitan. Begitu malasnya burung-burung
ini
sehingga kicauan tak lagi mereka perlukan. Kicau, harga
termahal dari seekor
burung telah mereka lupakan oleh kesibukan
pacaran. Baru benar-benar ketika
mereka telah siap dipisahkan, aku
merasakan perbedaan cara menentukan harga
di antara kami. Aku yang
menganggap mahal kicauannya pasti berkebalikan
dengan
burung-burung ini yang menganggapnya sebagai soal yang murah
saja.
Murah jika bandingannya adalah kebersamaan dan kebahagiaan
mereka ketika
sedang bersama-sama.

Mereka tak perlu
berkicau lagi karena dada-dada mereka pasti sedang penuh
oleh rasa
bahagia. Aku baru bertanya sekarang, jangan-jangan kicauan
yang
selama ini kudengar dari paruhnya itu adalah sebuah jeritan.
Burung ini bisa
jadi bukan sedang menyanyi melainkan sedang
memekik-mekik untuk dipertemukan
dengan kekasihnya yang hilang,
tetapi aku menangkapnya sebagai nyanyian.
Burung ini mungkin
tengah menangis meraung-raung sementara di kupingku
terdengar
sebagai kemerduan.

Begitu bernafsunya aku ini tehadap
kegembiraanku sendiri sehingga kepedihan
pihak lain kujadikan
bahan baku. Kenapa ada ratapan yang kudengar sebagai
nyanyian cuma
karena nafsuku yang terlalu untuk kegembiraanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s